Lamongan — Semangat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 terasa semakin semarak dengan digelarnya Pameran Pendidikan di Lapangan Gajah Mada Lamongan, 2–4 Mei 2025. Salah satu sekolah yang turut ambil bagian adalah SMP Negeri 2 Kedungpring yang hadir membawa beragam karya kreatif dan inovatif hasil karya peserta didik.
Mengusung semangat belajar, berkarya, dan berinovasi, stan SMP Negeri 2 Kedungpring menjadi ruang yang memperlihatkan bahwa pembelajaran di sekolah tidak berhenti pada teori di dalam kelas. Berbagai pengetahuan dan keterampilan diterjemahkan siswa menjadi karya nyata yang dapat dilihat, diapresiasi, bahkan menginspirasi pengunjung.
Salah satu karya yang menjadi daya tarik utama adalah aneka robotik dengan sensor otomatis. Robot-robot karya siswa tersebut menunjukkan keberanian peserta didik dalam mengeksplorasi teknologi, mengembangkan ide, serta menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh dalam pembelajaran ke dalam produk yang nyata dan fungsional.

Bagi Ibu Dr. Hj. Hibatun Wafiroh, S.Pd. Si., M.Pd., Kepala SMP Negeri 2 Kedungpring, pameran menjadi kesempatan penting untuk memberikan ruang kepada siswa agar berani menunjukkan potensi terbaiknya.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga belajar menjadi pencipta dan inovator. Ketika mereka diberi kesempatan untuk mencoba, membuat, kemudian mempresentasikan karyanya di hadapan masyarakat, di situlah proses pendidikan menjadi lebih bermakna,” ungkap Bu Wafi, sapaan Kepala SMP Negeri 2 Kedungpring.
Tidak hanya teknologi, kreativitas peserta didik juga ditampilkan melalui berbagai karya decoupage. Dengan ketelitian, kreativitas, dan sentuhan seni, bahan-bahan sederhana diolah menjadi karya dekoratif yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai guna.

Keragaman karya semakin terasa dengan hadirnya aneka olahan makanan berbahan dasar pisang. Potensi pangan lokal tersebut dikembangkan menjadi produk-produk kreatif yang menarik sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Sementara itu, jamu tradisional turut menjadi bagian dari karya yang dipamerkan. Kehadirannya bukan sekadar memperkenalkan minuman tradisional, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan kekayaan budaya dan kearifan lokal kepada generasi muda.
Bu Wafi menambahkan bahwa keberagaman karya tersebut merupakan gambaran bahwa setiap peserta didik memiliki potensi yang berbeda-beda.
“Tidak semua anak harus hebat di bidang yang sama. Ada yang memiliki kekuatan di teknologi, ada yang menonjol dalam seni, ada yang kreatif mengolah bahan pangan, dan ada pula yang memiliki kepedulian terhadap budaya serta kearifan lokal. Tugas sekolah adalah menemukan potensi itu, memberi ruang untuk berkembang, dan menumbuhkan kepercayaan diri mereka,” tuturnya.
Keikutsertaan dalam Pameran Pendidikan juga memberikan pengalaman langsung bagi siswa. Mereka tidak hanya memajang hasil karya, tetapi belajar berkomunikasi, bekerja sama, menjelaskan proses, melayani pengunjung, serta mempertanggungjawabkan hasil karyanya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses pendidikan karena siswa belajar menghadapi situasi nyata di luar lingkungan kelas. Mereka belajar bahwa sebuah karya lahir melalui proses—dari menemukan ide, mencoba, mengalami kegagalan, memperbaiki, hingga akhirnya menghasilkan sesuatu yang dapat dibanggakan.
Bagi SMP Negeri 2 Kedungpring, Pameran Pendidikan Hardiknas 2025 bukan sekadar kegiatan seremonial. Pameran menjadi panggung apresiasi bagi kreativitas siswa sekaligus ruang pembelajaran yang nyata dan kontekstual.
Dari sensor otomatis pada robotik hingga cita rasa jamu tradisional, dari kreativitas decoupage hingga inovasi olahan pisang, stan SMP Negeri 2 Kedungpring menghadirkan wajah pendidikan yang kreatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan.
Semangat Hardiknas pun menemukan maknanya dalam karya-karya tersebut: pendidikan bukan hanya tentang apa yang mampu dipelajari anak, tetapi juga tentang apa yang mampu mereka ciptakan, kembangkan, dan kontribusikan bagi lingkungan. [red]

