
Di era digital yang serba cepat ini, tuntutan akademik, tekanan sosial, dan perubahan hormon pada masa remaja seringkali memicu berbagai masalah kesehatan mental pada siswa. Depresi, kecemasan, gangguan tidur, hingga pikiran untuk bunuh diri menjadi isu yang semakin sering terdengar. Kondisi ini seringkali disebut sebagai “silent epidemic” karena banyak siswa yang enggan atau takut untuk mengungkapkan perasaan mereka.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Institut Metrik dinyatakan bahwa satu dari tujuh (14%) anak usia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental , namun gangguan ini sebagian besar belum dikenali dan tidak diobati. Siswa dengan kondisi kesehatan mental yang lemah akan sangat rentan terhadap pengucilan sosial, diskriminasi, kesulitan dalam belajar, perilaku mengambil risiko, kesehatan fisik yang buruk, dan pelanggaran hak asasi manusia.
Banyak faktor yang memengaruhi kesehatan mental. Semakin banyak faktor risiko yang dialami, semakin besar pula potensi dampaknya terhadap kesehatan mental mereka. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan stres selama masa remaja meliputi paparan terhadap kesulitan, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan teman sebaya, dan eksplorasi identitas. Pengaruh media dan persepsi atau aspirasi mereka untuk masa depan juga mempengaruhi kesehatan mental. Penentu penting lainnya meliputi kualitas kehidupan rumah tangga dan hubungan dengan teman sebaya. Kekerasan (terutama kekerasan seksual dan perundungan), pola asuh yang salah, serta masalah sosial ekonomi yang serius merupakan risiko yang diketahui terhadap kesehatan mental.

Beberapa hal yang dilakukan oleh SMP Negeri 2 Kedungpring untuk mengatasi masalah kesehatan mental adalah membentuk satuan tugas atau Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), melakukan pembiasaan penguatan karakter positif, penguatan spiritual melalui kegiatan-kegiatan religius, melakukan gerakan kampanye anti perundungan, pawai aksi damai, Seminar Mental Healthy, dan Kemah Wisata yang memadukan perpaduan kegiatan kemah dengan wisata untuk penguatan mental, karakter, dan spiritual. Adapun dalam pembelajaran di kelas, guru-guru terus berupaya menerapkan pembelajaran sosial emosional yang dapat menguatkan kesadaran sosial emosional siswa.
Kesehatan mental siswa merupakan masalah yang serius dan perlu mendapat perhatian lebih. Dengan dukungan dari orang-orang terdekat dan upaya yang konsisten, siswa dapat mengatasi masalah kesehatan mental dan tumbuh menjadi individu yang sehat dan bahagia. Untuk menangani kasus-kasus kesehatan mental, perlu banyak orang yang peduli, mau berkolaborasi, dan siap membantu. []
Informasi Relevan:
Praktik baik tentang Penguatan Kesehatan Mental di SMP Negeri 2 Kedungpring telah dipublikasikan juga dalam Podcast bersama beberapa Kepala Sekolah lainnya yakni di

